PECUNDANG YANG KHILAF
Tulisan ini hadir untuk menginterupsi perjalanan panjang yang salah arah. Ya, saya adalah pecundang kampus yang terlambat sadar. Pecundang karena di penghujung masa kuliah barulah sadar dengan kemampuan saat ini. Sangatlah malu ketika mengukur kemampuan intelektual diri sendiri. Sampai dengan detik ini, tidak ada karya yang dihasilkan sebagai seorang akademisi, apa pun itu. Tidaklah pantas disebut kaum akademisi, bahkan ketika tertaut gelar di belakang nama nantinya. Sangat memalukan untuk mahasiswa semester akhir. Cacian di atas merupakan refleksi beberapa hari di desa Duma. Ya, Duma merupakan tempat melaksanakan praktik dari kampus yang secara teknis saya ditempatkan di suatu jemaat sinode/denominasi gereja tertentu. Menginjakkan kaki di tempat ini, saya dibuat kagum dengan berbagai hal. Desa ini bagai taman Eden yang Tuhan ciptakan di pulau Halmahera. Mungkin agak berlebihan bagi kalian yang membaca ini, tapi tidaklah cukup bagi para pendatang yang tinggal di desa ini. Yang memb...